20160421

4 Tahun Berlalu

Dua tahun berlalu sejak post terakhirku di blog ini. Tiga tahun berlalu sejak post terakhir mengenai kehidupan di dunia kampusku. Hampir empat tahun berlalu sejak aku memulai kehidupanku di dunia perkuliahan. Banyak yang berubah, banyak juga yang aku alami, baik dari segi perkuliahan, keluarga, teman, kegiatan unit, hingga kehidupan percintaan. 

Bandung kotaku telah dinobatkan sebagai kota desain. Taman-taman diperbaiki dan diperbaharui, fasilitas kota bertambah, bandung lebih bersih sekarang. Sungai di daerah rumahku bahkan dapat digunakan untuk berenang. #nuhunkangemil

Ibuku bersama lima temannya membuat online shop bersama-sama. Katanya sih untuk biaya menabung reunian di eropa. Lucu melihatnya karena mereka sedikit kerepotan dengan teknologi masa kini. Bahkan tak satupun dari mereka mengerti cara pengunaan instagram

Sekarang adikku sedang mempersiapkan diri tes masuk universitas, walaupun hanya satu universitas yang ingin is tuju, ITENAS, kampusku. Selain itu dia juga sedang rajin-rajinnya mencari uang secara online melalui DOTA. Tubuhnya semakin berotot, kalau disentuh seprti memegang batang kayu. Badannya tinggi dan mukanya semakin dewasa. Keadaan seperti itu membuatku senang karena dia terlihat seperti kakak bahkan sering disangka pacarku dan membuatku terlihat lebih muda.

Ruang disebelah toko roti dirumahku disewa oleh sebuah perusahaan laundry sepatu. Jadi rumahku tidak lagi hanya dikunjungi oleh pembeli roti, tapi juga pemilik sepatu-sepatu kotor. Dan dibagian belakang rumahku tinggal lah seekor anjing bernama Mogu sejak bulan Agustus tahun lalu. Ayahku yang mengadopsinya, dan sekarang dia menjadi anggota keluarga termuda di rumahku.

Bagaimana dengan kehidupanku? Kehidupanku dimulai dari post mengenai kampusku di blog ini. Semua kehidupanku benar-benar berubah setelah memasuki Unit Paduan Suara di Kampusku. Aku bahkan tidak mengetahui aku akan hidup dengan genre seperti ini. Kehidupan kompetisi, membaca partitur, olah vocal, latihan fisik, diet khusus penyanyi, melatih junior, benar-benar kehidupan bermusik seperti drama Nodame Cantabile yang kutonton saat SMA. Dan kalian akan bertanya-tanya sebenarnya aku ini kuliah nyanyi apa desain interior? Akupun tak tau jawabnya. 

Tapi apakah aku benar-benar meninggalkan kegiatan kuliahku? Oh, tentu tidak, aku tetap mencintai kuliahku, aku tetap senang dan selalu bersemangat menjalani setiap mata kuliah. Walaupun hasilnya memang tidak secemerlang orang lain, tapi aku bisa mempertahankan IPKku di atas 3. Memang akhirnya kuliahku sedikit terhambat karena penyakit asma yang kuderita, tapi memperpanjang masa kuliahku tidak disebabkan oleh kegiatan unit melainkan karena fisikku yang lemah. 

Kehidupan cinta? Oh ini bagian yang paling mengerikan. Percayalah. Aku tidak akan menceritakannya disini karena aku tidak ingin menyinggung berbagai macam pihak.

Apa yang kulakukan sekarang? Pertama aku akan melakukan operasi gigi besok, kedua, menghadapi sidang pra TA, ketiga, mempersiapkan konser bersama paduan suara, kempat Kerja Profesi, dan kelima mencari pundi-pundi rupiah.

Terakhir, aku baru saja pulang dari Jepang! Yeah! Aku menunggu 21 tahun 9 bulan untuk momen ini. Aku lolos seleksi menjadi salah satu chorister dalam bentuk choir ensmble (hanya 16 orang penyanyi). Kami bahkan berhasil membawa medali emas, dan berkesempatan untuk tampil di babak grandprix. Tidak banyak yang tau betapa mengerikannya berkompetisi di kota berjulukan "Kingdom of Choir" Fukushima, di Jepang ini. 

So here's the photo <3




20131126

Pergi Teralu Jauh

-by mayachan-

Selamat petang, para penghuni negeri dongeng sekalian. Aku dari dunia manusia, membawa kabar buruk. Aku diusir. Aku tidak cocok berada di sini. Sudah teralu banyak kesalahanku. Memaafkanku pun mereka tidak punya waktu.

Hai penghuni negeri dongeng yang masih setia mendengarkan aku. Realita itu pahit kalau kalian mau tau. Aku tidak bertemu pangeran tampan*, , guardianku pergi entah kemana, aku tidak bertemu kurcaci, dan tidak bertemu happy ending.

Aku tidak tau cara pulang, aku terpaksa harus bertahan di sini. Walaupun aku masih punya beruang tour guide dunia nyata yang selalu sakit perut (dia anak kost dan sering kesulitan soal makanan), Mr. Gnomehidup berukuran jumbo seberat 93kg yang selalu membantuku (dipanggil melalui sms/bbm kalau sedang tidak kuliah atau nugas = 15 menit sehari dikurangi waktu pending sms/bbm) , dan juga lelaki tampan*. Bersama mereka, hidupku "sedikit" lebih berwarna. Hanya saja mereka tidak bisa selamanya ada untukku (aku terhalang dengan kata "gengsi" dan "modus"). Aku juga bertemu dengan lelaki penebang pohon, dan si lelaku hutan (mereka sama sekali tidak menolong, walaupun keduanya kadang membuatku tertawa dan senang)

Aku menyesal pergi dari negeri dongeng. Sekarang aku harus menerima konsekuensinya dan tetap berada di sini. Aku kehilangan kakek panda (sekarang dia sudah punya cewe), si gendut fifi (sudah teralu sibuk dengan dunia perkuliahannya), si badan kekar berjiwa bayi, dan juga kehilangan si tampan pemain piano yang tidak gay.

Aku kehilangan senyumku. Aku pergi teralu jauh. Hanya si kuma yang membuatku ingat dimana aku berasal, tapi sekarang dia sudah teralu sibuk kuliah akutansi dan kehidupan berorganisasinya.

Semua kabar buruk ini berasal ketika aku bertemu dengan Nona Selalu benar. Dia putri di sini. Baik, cantik, pintar, tapi tegas, berteman dengannya adalah salah satu best partnya. Tapi dia menemukan bahwa Nona Selalu Salah adalah aku. Dia kecewa dan tidak mau berteman denganku lagi. Aku kerap kali teledor, membuat ramuan yang salah, hampir mencelakakan orang, menjatuhkan barang-barang mahal, lancang pada raja, kira-kira seperti itu kesalahanku. sisanya tidak suka padaku karena kesalahanku yang merepotkan.

Hai penghuni negeri dongeng, Doakan aku kuat ya, Doakan supaya aku menjadi Nona Selalu Salah yang lebih sering berbuat benar (aku boleh salah kadang-kadang, kan?). Doakan supaya aku tidak lupa untuk tersenyum, selalu semangat dan tidak pernah berputus asa, doakan aku bertemu pangeran yang tidak perlu tampan (bahkan tidak tampan sama sekali pun tak apa, hahaha). Doakan aku yang terbaik... terima kasih...

 *disini, yang tampan itu gay

20130324

Reason

-by mayachan-

HUA ! Udah berapa lama aku gak nge blog ?? aku aja gak inget kapan terakhir aku nge post, dan cerita apa, yang pasti kayaknya di antara teman-temanku , tinggal aku seorang yang belum bercerita tentang my collage live. Hahahaha.

So, sekedar cerita,  waktu aku masih SMP, baru keterima masuk SMA di SMAN4 Bandung, asalnya nggak ikhlas banget, why? Soalnya itu bukan SMA aku, apa daya nem tak sampai, terdamparlah aku di sana, di sebuah lokasi padat penduduk, sekolahku yang bersebelahan dengan toko plastik dan apotik, dan lautan motor di jalan raya yang dibuat oleh murid-muridnya karena tidak ada lahan parkir. Kok kesannya sedih banget, menerima kenyataan harus bersekolah di situ? Dalam ketidakikhlasanku, mama bilang " Terkadang, ketika kita terdampar di sebuah lokasi yang nggak kita suka, kaya kamu sekarang ini, bukan berarti kamu gak pantas dapat yang kamu mau, tapi mungkin tempat itu yang membutuhkan kamu buat jadi orang hebat di sana." . Dari situ aku mikir, i have to do something, yang berguna , apapun itu. Berawal dari aktif di satu ekskul wajib, selama 3 tahun, akhirnya aku menjalani 4 ekskul sekaligus, dan di masing-masing ekskul yang kujalani, aku berhasil mencatat prestasi. Haha, bukan sombong, toh prestasi yang aku buat bukan sesuatu yang penting untuk diingat, tapi setidaknya hal-hal itu yang bisa membuatku happy ada di sana, bangga pernah bersekolah di sana, dan punya banyak sahabat, lebih dari yang kupikirkan sebelumnya.

Tiga tahun berlalu sejak kata-kata itu mengalir dari mulut mama. Kejadian yang sama, terulang lagi. Aku gak diterima di universitas yang aku pilih. Membuatku terdampar di lokasi gersang, padat penduduk, lagi, kampus ITENAS Bandung, almamaterku tercinta. Aku mikir, kalo lagi ngumpul sama temen SMP atau SMA, kok kayanya univ aku tuh paling gak kece, bener-bener gak ada apa-apanya sama mereka. Aku cuman bisa berdoa, Ya Allah, kalau memang tempat ini butuh aku, dan tempat ini memang baik buat aku, Please show me!

And God always listen, doa anak terdampar ini dijawab. Berawal dari pengenalan unit, aku udah jatuh cinta sama unit yang satu ini. Tadinya aku sempat berpikir, gak usah ikut unit, kuliah doang juga pasti cape, kalo nambah masuk unit lebih cape. Di pengenalan unit itu, mereka gak banyak bercerita, mereka gak banyak promosi, suara mereka yang menggema di gedung serba guna kampus ini, cukup menjelaskan, kegiatan apa saja yang ada di sana, apa saja yang aku dapat ketika aku ada di dalamnya.

Hingga akhirnya, beberapa anak diramaikan dengan dibukannya pendaftaran untuk unit itu di buka. Dari jurusanku saat itu yang berminat banyak sekali, mereka beli formulir di Studeng Center (disingkat SC) , di sekre lantai 2. Waktu itu aku termasuk yang telat daftar, dengan alasan " gatau SC dimana (sebenernya tau) , gatau sekrenya yang mana (bolak balik ke sana pake muka memelas kayak kucing gak dikasih makan + muka anak ilang --> ekspresi favorite)." Entah jodoh entah apa, sore itu, sore yang aku lupa, hari, dan tanggalnya, pokoknya sore, aku berjalan sendirian ke sana, mencari formulir, hingga akhirnya anak malang nyaris nyasar di SC ini , dipungut sama teh Azni (waktu itu belon tau namanya). Aku beli lah formulir itu seharga 10 ribu, terus, 10 ribu lagi buat Dinda.

Jinggaswara Itenas
PSM (Paduan SuaraMahasiswa)

Ahahaha, entah kenapa, formulir seharga 10 ribu itu bisa membuat euforia tersendiri buat seorang anak yang nyaris mati nyasar di SC. Dan yang paling bikin aku happy, ketika membaca pertanyaan di formulir "pengalaman bermusik anda:" , pertanyaan paling mudah dan paling semangat aku isi. HAHAHA! Setelah itu , seharusnya aku menjalankan semacam rangkaian tes, sekedar penentu range suaraku bisa setinggi atau serendah apa. Tapi aku gak ikut, soalnya kesorean, dan masih harus nugas.

Entah jodoh entah apa, ternyata kesempatan buat kumpul, dan ambitus (pembagian range suara, Sopran (nada tinggi), Alto (nada rendahnya cewe), Tenor (Nada tingginya cowo) Bass (suara cowo macho)) susulan, masih ada (Thanks God!). Di hari itu, aku dinobatkan menjadi, anak sopran 2.

Waktu kumpul pertama, rudet, banyak banget orang, dalem hati aku mikir, kalo gini caranya, butuh seleksi alam, dan bakal perlu audisi buat tampil di acara-acara, karena , kalo nyanyi di panggung dengan anggota 100 orang lebih, namanya demo, bukan paduan suara.Kalau masuk unit, ujung-ujungnya kalah seleksi sih, sama aja buang waktu, dan ngedenger program-program dan penjelasan dari kakak-kakak dan pelatih, ini gak main-main (dalem hati : wah rame nih, haha! gak boring!)

Awal-awalnya latihannya geje abis, dari beberapa partitur yang di kasih, lagu gak beres-beres (belakangan baru tau, ternyata kakak-kakaknya sibuk ngurusin hal yang lebih penting, jadi banyak latihan tertunda). Akhirnya karena bosan, aku berinisiatif menerjemahkan partitur-partitur itu ke piano. Di piano, segalanya terasa mudah, pencet aja not apa yang diminta, hitung ketukan, sesuai partitur, gak pake fales, gak pake kehabisan nafas, dan kenyataan itu berbeda dengan bernyanyi. Akhirnya aku sadar, PSM ini bukan sekedar paduan suara, yang tampil setiap hari senin, sekedar menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta, ditambah lagu wajib nasional.

Target terdekat dari situ adalah menyanyi untuk wisuda, setelah itu kompetisi Nasional di UI. Berhubung kuliah sampai sore biasanya rata-rata sekitar jam 5 an, latihan dimulai setelahnya, yang berarti, waktu nugasku berkurang, dan intesitas latihan selalu bertambah, dari seminggu sekali, seminggu 2 kali, setiap hari, di hari kerja , hingga akhirnya sabtu minggu pun latihan. Seleksi alam dimulai, bukannya tergoda untuk ikut mengundurkan diri, aku malah hepi (sainganku berkurang!) . sibuk-sibuk membagi waktu, aku lebih mementingkan kuliah dan ikut jinggas, dibandingkan ikut acara angata, atau acara di jurusanku sendiri. Membuat aku sedikit diremehkan dan dikucilkan di angkatanku, beberapa dari mereka tidak memberikan toleransi, tidak mendengarkan alasan apapun, yang mereka tau, hanya aku tidak aktif berpartisipasi di acara angkatan. Alhasil, aku berjuang untuk latihan menyanyi hingga larut, didalam pendapat buruk orang lain. Dan tidak hanya itu, aku menjalani semuanya, dalam keadaan sakit, selama sebulan, gak sembuh-sembuh. beberapa kali aku bertanya, ngapain cape-cape kayak gini?! aku jawab : gak taaauuu! pokonya maya pengen begini, latihan nyanyi sampe bisa, sampe hebat, sampe keren, biar orang lain denger!

Hari H wisuda, aku berusaha menyanyi, seolah tidak ada masalah, aku dalam keadaan sehat, semua baik-baik saja. Ada alasan kenapa aku gak bilang kalau aku sakit, aku pikir, ketika kita memiliki faktor x sebuah kelemahan yang tidak dimiliki orang lain, yang dipilih pasti orang lain kan? makanya, demi mendapatkan pengakuan, aku berusaha memberikan yang terbaik, apapun itu. Acara wisuda selesai, kami mendapat apresiasi baik. tapi bukan itu yang aku cari. Yang aku cari adalah untuk seleksi kompetisi UI.

Setelah itu latihan kami bertambah, memang kami hanya akan menampilkan 3 lagu. tapi sulit untuk kami, terutama yang angkatan 2012 , karena satu diantara lagu itu , diwajibkan menggunakan gerakkan. menyanyi sambil bergerak itu susah loh, haha, bukan kayak cherybell dan sejenisnya. Ini lebih dari itu, lebih dari sekedar hura-hura di atas panggung.

diantara banyaknya peminat, aku berhasil masuk 50 besar seleksi untuk 35 orang terpilih, dan dari 50, aku berhasil mencapai 35 orang yang masuk seleksi. Sedih memang tidak semua peserta, dan teman yang kuharap lolos seleksi, malah gak lolos. why? karena senior didahulukan, lagi pulaaa, kualitas kakak senior itu jauuuuuh dibandingkan yang 2012.

latihan demi latihan aku lewatkan dengan perasaan tidak puas, ketika aku berusaha benar, yang lain salah. Dan ternyata problemnya adalah, kakak-kakakku tersayang ini dulu, pelatihnya beda, bukan Ka Rita Sama Kak Lucy, jadi, mereka belum adaptasi, nah, kami yang 2012 ikut-ikutan kakak-kakaknya, dan Problem ini dibawa sampai ke kompetisi.

Di hari H kompetisi, kami menampilkan yang lebih buruk dari latihan. semantara, kompetisi ini sangat-sangat berarti untuk kami kedepannya. Kami hanya bisa pasrah, apapun yang terjadi kami terima.

Sore itu pengumuman akan dibacakan. Juri naik ke atas panggung, sementara kami gemetar.
Juri : Dibacain juara 1, 2, 3, nya atau 24 besaar?!
orang-orang: 24 besaaaarrr!!!!!!!!!!!
blablabla dan akhirnyaaa dibacakan lah pengumuman itu..

mungkin kami yang ke 24
24. ...
23. ...
22. ..
bukan kami...
21. ...
20. ...
mungkin kami di nomer belasan
19. ..
18. ..
17. ..
15. ..
ke berapa yah? (mulai nangis)
14. ..
13. ..
ASTAGHFIRULLOOOOOOHH!!
12.
MASUK 10 BESAR GAK YAAAAAHH?!
11. ..
Allah hu akbaaaaaaaaaaaarrr!!!
10. ..
10 BESAAAAAARR YA ALLAAHH!! (makin nangis)
9. ...
8. ..
7. ..
mungkin kami ke 6
6. ..
mungkin ke 5
5. ..
hah?!
4. ..
WHAAAAAAAAAAAAAAA 3 besaaaaaaaaaarrr!!!!!( pada teriaaak sambil nangis semua!)
3. JINGGASWARA ITENAAAS
TERIMAKAAAASIIIIHH YAAAAA ALLLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!!!
2. UPH (kalah di modal)
1. UPI (kalah karena mereka mahasiswa jurusan musik)

Gilaaa!! baru masuk kuliah beberapa bulan udah dapet prestasi tingkat nasional, aku gaaaaak percayaa hahaaa!!!! Tapi sumpah! Hepi banget! Perjuangaan akuuu haha!! membuahkaan hasiiill!! HOREE IH WAAW!! hahaha! suuut ah.

intinya adalah, kalau memang disini jalan perjuanganku, kalau memang ini adalah alasan kenapa aku terdampar di sini, aku rela ngeluarin apa aja, hanya supaya, hidup aku ada WAWnya, Allah ngasih kesempatan aku hidup bukan untuk akhirnya mati, tapi untuk sesuatu sebelum mati. Kalau kesempatanku di sini masih ada Ya Allah, biarkan aku bermimpi di sini...


20120928

Semua Ada Waktunya

-by mayachan-

Untuk sebagian orang, jatuh cinta adalah sesuatu yang menyenangkan, mengasikan, dan menarik untuk digeluti, tapi tidak untukku. Kenapa? Mungkin karena aku teralu sering gagal. Mungkin karena aku tidak punya bakat soal itu. Atau memang mungkin, aku belum bertemu dengan yang pas denganku. Semua terasa seperti omong kosong. Harapan palsu. Sesuatu hal yang benar-benar tidak cocok untuk kumiliki atau aku rasa.

 Jadi aku sedang membicarakan tentang seorang laki-laki di depan sana. Seseorang yang  sedang bermandikan keringat sambil berlari mengejar bola plastik kecil yang bergulir lancar di lapangan futsal sore itu. Kulitnya hitam karena sering terpapar sinar matahari, tinggi namun tidak berisi, dengan sorot mata yang tajam menatap lurus ke depan, tepat ke arah seseorang berbaju kuning dengan kuda-kuda , siap menjaga gawang, kapanpun bola ditendang. Kakinya dibentangkan jauh ke belakang lalu di ayun ke depan, tepat mengenai bola yang langsung melesat cepat melewat tangan kiper berbaju kuning tadi. Gol. Riuh teriakan setelah peluit berhenti, tepat saat permainan akhirnya dihentikan. Dia berhasil lagi, membawa kemenangan untuk kampusnya. Aku berdiri di balik tiang penyangga tribun penonton sambil bertepuk tangan ditambah lompatan-lompatan kecil saking senangnya.

Nandika.. namanya Nandika. Anak sekompleks denganku, lebih tepatnya teman masa kecil. Hanya teman.. itu pun di masa lalu. Tapi aku selalu bangga padanya. Aku senang melihatnya bermandikan keringat seperti itu. Aku senang saat dia berlari cepat mengejar bola dilapangan, aku senang dia yang gigih berlatih dan selalu siap menerima tanggung jawab sebagai kapten kesebelasan. Gigih, mau berjuang, demi cita-cita dan teman perjuangan.

Seorang perempuan berambut panjang dengan kaki yang jenjang menyodorkan sebotol air mineral yang tutupnya sudah terbuka setengah. Dika menerima sambil tersenyum pada perempuan itu, lalu meminumnya, setengahnya lagi ia banjurkan ke kepalanya. Dia berkata sesuatu kepada perempuan itu, seperti menggodanya. Perempuan itu hanya tertawa ringan lalu melemparkan handuk kecil dengan kasar, lalu berjalan pergi. Dika hanya tersenyum geli lalu mengejar perempuan tadi. Aku hanya bisa tersenyum juga menyaksikan itu, mengharapkan keajaiban, aku yang menggantikan posisi perempuan ini. Jabatan yang kuimpikan, menjadi kekasih dari atlet futsal ini.

Ini sudah kebiasaanku sehari-hari, seperti seorang stalker, mengikuti gerak geriknya kemana-mana. Sayang, dia tidak pernah menyadari keberadaanku, mungkin saja tidak akan pernah. Namun, namanya juga harapan seorang pemimpi seperti aku, semua kejadian dan penantian ini aku jalani dengan pasrah. Seperti seseorang yang berjalan pelan di atas bara, padahal panas dapat menyebar dalam waktu kurang dari 2 detik. Kunikmati setiap detik, panasnya telapak kakiku menginjak bara itu, panasnya hatiku ketika aku harus cemburu pada perempuan itu, yang aku yakin, rasanya aku masih punya sopan santun lebih baik dari pada perempuan itu. Aku tidak ingin mempertanyakan, kenapa dia memilih perempuan itu.. mungkin memang disinilah aku harus berdiri, dan disanalah dia harus berdiri juga.

Aku mengikutinya dari belakang, bersembunyi di balik pohon, lalu pindah ke pohon lain supaya bisa mengikuti Nandika dari jarak yang pas tanpa menggaggunya. Dia masih bersama perempuan itu.. namun perempuan itu nampak murung dan tidak menanggapi kata-kata Nandika. Dika terus mengejar perempuan itu, hingga akhirnya perempuan itu duduk di bangku tangan. Dika berbisik sesuatu, lalu pergi. Sepertinya pergi menuju sebrang jalan. Mungkin membeli minuman untuk si perempuan.. tapi tak apa, aku ikuti saja.

Laju kakinya yang jenjang sangat cepat, hingga aku berlari kecil mengejarnya, padahal dia hanya berjalan cepat, terburu-buru malahan. Rasanya lama kelamaan dia berjalan semakin jauh hingga aku tertutup kerumunan orang lalu kehilangan punggungnya untuk beberapa detik. Aku mencarinya, menoleh, kekanan ke kiri secara cepat, menyisir jalanan, lalu menemukannya kembali. Menemukan ia berjalan di tengah jalan, hingga sebuah bus melaju menghantam tubuhnya. Menyeretnya hingga beberapa meter.

Aku hanya terpaku, diam beberapa detik dari kejauhan. Darah. Darah itu terlihat sangat segar, mengalir, membasahi aspal menjadi kemerahan. selang beberapa detik, tubuhnya sudah tertutup kerumunan dan teriakan orang-orang sekitarnya. Beberapa orang berlari ke arah bus lalu terlihat marah-marah pada supir.
Aku berlari, mendekat ke arah kerumunan orang. Dimana dia... kemana dia... apa yang akan terjadi sesudah ini?

Aku menerobos kerumunan itu, lalu mendadak sepi, rasanya seperti berpindah ke tempat lain, aku tidak bisa mendengar suara kerumunan manusia tang terlihat ricuh, hingga aku melihat sosok nandika, yang secara tiba-tiba muncul didepanku. Dia menoleh, lalu terperanjat kaget. Begitu juga aku. Berarti.. sekarang... aku dan Nandika, ada pada dunia yang sama? Apa ini keajaiban yang aku nanti? Lalu pada akhirnya Tuhan memberi aku waktu untuk bersamanya?

Aku melihatnya lagi.. secara tiba-tiba.. setelah aku melewati saat-saat menyakitkan, lalu aku mendengar teriakan banyak orang, dan melihat tubuhku yang hancur, berlumuran darah, dan sudah tidak berbentuk lagi. Aku menoleh dan mendapatinya berdiri kaku dibelakangku. Dia.. cinta pertamaku, teman semasa kecilku, yang setauku dia sudah mati beberapa tahun lalu karena kecelakaan lalu lintas, tertabrak bus dan terpental beberapa meter. Sekarang aku melihatnya lagi, entah bagaimana caranya. Atau aku sudah mati? dan berada di dunia yang sama dengannya?

20120927

Buat Tugas Konstruk

-by mayachan-

















ini buat tugas konstruk, buat orang-orang yang malas keluar rumah untuk kerja kelompok.. :D

20120922

Cerita Lelaki

-by mayachan-

"Jadi, may, ini kucing aku, lucu kan?" Seorang laki-laki menyodorkan blackberrynya menunjukan gambar seekor kucing kecil berwarna abu meringkuk tidur dengan nyaman di lantai. "Ih, lucu banget!" aku menjawab antusias seperti baru pertama kali lihat kucing lucu, padahal dimataku semua kucing itu lucu.
"Tapi ini mati kemarin, mau liat burung elang punya raka, gak?" aku menjawab dengan anggukan singkat. Dia mencari-cari gambar di ponsel itu, lalu menyodorkan ponselnya lagi seperti tadi. Gambar seekor burung elang berwarna coklat berdiri tegap di tangan pemiliknya. "Ih keren!" lagi-lagi aku memberikan ekspresi antusias. "Yang ini kabur, mau lihat tupai punya raka, gak?".
 "Tupainya masih ada di rumah raka, gak?" .
 "Masih, kalau tupai masih ada"
"Ya udah aku mau lihat"
Sekarang gambar tupai sekepal tangan, bermata besar, berbuntut panjang itu memenuhi layar ponsel.
"Raka pengen pelihara sugar glider, maya tau gak?"
"Iya tau, tapi aku lebih kepingin pelihara burung hantu"
"Pelihara aja, mau Raka cariin, gak?
"Gamau, gamau ngasih makan.. makannya jangkrik, aku geli sama jangkriknya"
Begitulah pembicaraan yang tidak begitu panjang dan penting sore itu, di kampus, waktu nongkrong sama anak-anak dkv di tribun basket. Disaat teman sejurusanku sudah pulang, menyimpan tenaga untuk kuliah dikeesokan hari, aku lebih memilih untuk diam menikmati angin di tempat ini, mendengarkan cerita banyak orang sampai sekitar jam 7 malam, baru pulang.
"Maya, hayu temenin aku makaaan" suara laki-laki lain yang badannya lebih besar tiba-tiba terdengar setelah curhatan Raka tentang dunia fauna selesai. Nah, mahluk yang hobbynya main basket dan makan ini ceritanya banyak, waktu ceritanya juga beragam, biasanya sore-sore dia minta temenin makan, terus sambil makan dia bakal cerita, kemarin, aku harus mendengarkan ceritanya di telepon selama satu setengah jam. Ceritanya macem-macem walaupun paling banyak tentang mantannya, maklum lah, namanya juga belom move on, baru putus, sih.
"Gimana sih, cewe itu ngebingungin!" dari nada bicaranya, terdengar ini suara seseorang yang sedang kebingungan "alfi, kamu kurang ini, kamu kurang itu, kamu ga dewasa" dia menirukan suara orang lain, sementara aku hanya diam sambil menganggukan kepala tanda mengerti walaupun yang aku tau dia tidak akan lihat karena ini di telepon. "kenapa sih cewe  ga bisa ngertiin cowo?!" nada bicaranya makin tinggi. Sepertinya dia lupa dia sedang berbicara dengan seorang perempuan.
Haduh, macam-macam deh ceritanya, ada juga yang tiba-tiba curhat tentang wall climbing di eiger cihampelas, padahal itu sekitar jam 11 malam.
 "Kamu harus coba, may!"
"Aku gamau, dim, ntar turunnya gimana, kalo kaya pas dulu pramuka aku gamau ah" kataku sambil mengingat kejadian aku menangis di ketinggian 12 meter dan berteriak "aku gamau turun! gamau! gamau! naik lagii ajaa!!"
"tenang aja, kalo di sini yang ngatur turunnya  bilayernya, jadi pelan-pelan, jadi bisa liat bandung dari atas, kayak di TSB"
"Ya udah , kapan-kapan aku coba"
Entah kenapa, aku memang cenderung lebih senang mendengar curhatan anak laki-laki dari pada perempuan. Menurut aku, yang keluar dari mulut mereka itu murni, bukan drama, walaupun kadang ada laki-laki yang cerita atau berbicara tentang kejujuran dengan sentuhan drama, dan itu benar-benar tidak menarik untuk didengar. Tanpa sadar aku memperhatikan perilaku dan gerak-gerik mereka. Pantas saja mudah untukku untuk mencintai seorang lelaki, menurutku mereka sangat menarik, dan memang lebih menarik kalau bisa memiliki seorang dari mereka, beserta kebiasaan dan kejadian uniknya. aku senang melihat mereka antusias menunjukkan sesuatu, yang biasanya ditolak oleh perempuan lain, namun bisa kuterima dengan baik. Seperti Ian yang tiba-tiba memperdengarkan lagu yang benar-benar full of scream, setengah alternative, setengah heavy metal. "Ini may, video pas jaman-jamannya alternative, digabungin heavy metal, kadang ada disconya"
Aku ngangguk-ngangguk bingung mau komentar apa. Sementara yang lain berkomentar "Itu nyanyi apa sih, pusing". Kenapa aku ga pusing? Percaya deh, aku pernah di anterin pergi sama cowo yang nyetel lagu beginian keras-keras, dan aku fine-fine saja disaat orang lain menutup telinga, ngomel-ngomel lebih berisik dari teriakan vocalis. menurut aku heavy metal itu ekspresi kekesalan atau amarah seseorang, kalau yang protes dengerin lagu kaya gini, mungkin karena mereka punya pelampiasan lain kalau lagi marah. "May, ini papercraft buatan aku, aku bikin papercraft satu kota selebar kamar, ni fotonya ceritanya lagi tabrakan keretanya" Fatin ga mau kalah ikut pamer setelah Ian selesai menjelaskan pelajaran musik metalnya. "Iya, iya, bagus, aku belom pernah bikin sampai seserius itu!" . Yup, hobby dan ketertarikan kami para wanita dan lelaki memang berbeda.

Pernah di suatu sore pas lagi ngumpul, aku datang dengan kuku jari berwarna silver, habis manggung kemarin."Kamu ngapain sih tangannya dikutek-kutek gitu!" Alfi sewot. Dia emang paling sewot kalo ada cewe dandan, apalagi, bedakan, pake blush on. "Putih palsu tau, gak" katanya sambil nunjuk muka Ghia si anak design produk yang tak pernah melepaskan makeup dari wajahnya, hingga menobatkan makeup sebagai benda pertolongan pertamanya ketika mendapat masalah. "suka-suka orang dong!" kata Ghia membela diri. Benda koleksi juga termasuk perbedaan, kan? Senang kalao ada cowo menjelaskan barang koleksinya kepadaku, dari mulai lagu alternativenya radea, temen SMAku, papercraftnya Fathin, gundam punya Reksa dan kakaknya Dimas, sampai game. Mereka amaze sendiri melihat koleksi robot rakitan gundam berbagai tipe yang berjajar rapih di rak kamarku. "Kamu kan cewe, kok suka gundam?" kata Fathin nyeletuk disaat aku menjelaskan tentang gundam-gundam ini. Aku cuman bisa ketawa sambil bertanya dalam hati "Is that a weird things?" . Ian malah bingung lihat poster Need For Speed di salah satu dinding kamar. "kamu main NFS?"
"Semua, kecuali the Run karena baru di instal"
well aku bisa melihat ekspresi kaget dari raut mukanya. Aku memang cenderung lebih senang bergaul dengan laki-laki dibanding perempuan, seperti yang dari tadi kuceritakan, menurutku mereka mengasikan! Walaupun setengah dari ketertarikanku pada dunia harus diambil alih oleh hal-hal berbau maskulin, tapi aku jadikan semuanya sebagai suatu hal pembelajaran, aku jadi tau banyak tentang parkour dari Dimas, basket dari Alfi, tentang hewan dari Raka, Fathin dan Ian yang happy banget bercerita tentang musik.. Aku juga senang bisa bagian dari hidup mereka, orang yang mereka percaya untuk berbagi. Bagian menarik dari hidup, bukan?


Aku duduk di Tribun lapangan basket kampusku, menikmati angin dan suara gesekan tanaman bambu yang melenggak-lenggokkan batang tipisnya, mengikuti irama lagu yang keluar dari headset di telingaku. Aku membaca buku yang baru saja tadi kupinjam dari temanku. "Maya, dengerin cerita aku" kata Alfi sambil menidurkan kepala dengan rambut 2cmnya di pahaku.  Aku menutup buku dan melepas headset dari telingaku. "Iya, aku dengerin"